Source : alikhlas.ponpes.id
Wajahnya seindah bulan, bahkan lebih indah dari bulan purnama sekalipun. Kulit yang tidak terlalu putih, juga tidak terlalu gelap atau putih kemerah-merahan. Rambutnya tak terlalu keriting dan tak juga lurus tergerai. Sangat hitam pekat. Ia selalu merawat dan menyisir rambutnya sehingga selalu indah dan rapi.
Mempunyai kepala besar dan wajah tidak terlalu bulat. Berdahi lebar dan rata. Memiliki mata lebar dengan bola mata sangat putih dan sangat hitam. Bulu matanya sangat hitam dan lentik. Alis yang melengkung dan panjang sehingga kedua alisnya hampir menyatu. Di antara dua alisnya ada urat yang memerah kalau ia menahan amarah. memiliki hidung mancung, sangat serasi dengan bentuk dan ukuran wajahnya. Giginya tertata rapi meski sedikit jarang.
Itulah gambaran wajah Nabi Muhammad SAW berdasarkan hadis atau riwayat yang ada. Tentu gambaran itu tidak sepenuhnya menggambarkan wajah Nabi Muhammad SAW dengan sedetil-detilnya.
Nabi Muhammad SAW memiliki pandangan mata yang sangat tajam. Kerlingan mata Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengisyaratkan hal-hal yang buruk, meski kepada musuhnya sekali pun. Sosoknya begitu berwibawa. Pasang mata yang melihatnya, pastilah akan langsung menaruh hormat padanya, meski baru pertama kali memandangnya. Siapa pun yang berkumpul dan mengenalinya, ia akan mencintainya.
Nabi Muhammad lahir di Mekkah, 570 M bertepatan dengan peristiwa pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah dari negeri Habasyah untuk merobohkan Ka’bah. Maksud jahat mereka ini berhasil di gagalkan dengan pertolongan Allah SWT. Pada saat itu, Allah mengirimkan burung-burung ababil untuk menjatuhkan batu-batu pembawa wabah penyakit kepada pasukan Gajah yang sedang berupaya menghancurkan tempat suci dan bersejarah umat Islam (Ka’bah).
Nabi Muhammad melewati masa kecil sebagai yatim piatu. Ayahnya, Abdullah meninggal saat Nabi Muhammad masih dalam kandungan, enam bulan sebelum kelahiran. Nabi Muhammad bayi dibawa tinggal bersama keluarga dusun di pedalaman, mengikuti tradisi perkotaan kala itu untuk memperkuat fisik dan menghindarkan anak dari penyakit perkotaan. Ia di asuh dan di susui oleh Halimah binti Abi Dhuaib di kampung Bani Saad selama dua tahun. Setelah itu, Nabi Muhammad kecil di kembalikan untuk di asuh kepada budak Ummu Aiman. Pada usia ke-6, Nabi Muhammad kehilangan ibunya, Aminah karena sakit. Selama 2 tahun berikutnya Nabi Muhammad di besarkan di bawah asuhan kakeknya Abdul Muthalib, namun tak berselang lama, setelah dua tahun bersama sang kakek tercinta, Nabi Muhammad harus rela di tinggalkan kakek yang turut membesarkannya. Pada usia delapan tahun setelah kepergian sang kakek, Nabi Muhammad kemudian di asuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Ketika Nabi Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitu pula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum di lakukan dan di anggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Nabi Muhammad sering menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan kabar tentang kejujuran dan sifatnya yang dapat di percaya menyebar luas dengan cepat, membuatnya banyak di percaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.
Salah seseorang yang mendengar tentang kabar adanya anak muda yang bersifat jujur dan dapat di percaya dalam berdagang adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Ia adalah seseorang yang memiliki status tinggi di kalangan suku Arab. Sebagai seorang pedagang, ia juga sering mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Nabi Muhammad membuat Khadijah memercayakannya untuk mengatur barang dagangan Khadijah, Nabi Muhammad di janjikan olehnya akan di bayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan ketika sekembalinya Nabi Muhammad membawakan hasil berdagang yang lebih dari biasanya.
Seiring waktu akhirnya Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah, mereka menikah pada saat Nabi Muhammad berusia 25 tahun. Saat itu Khadijah telah berusia mendekati umur 40 tahun. Perbedaan umur yang jauh dan status janda yang di miliki oleh Khadijah tidak menjadi halangan bagi mereka, walaupun pada saat itu suku Quraisy memiliki budaya yang lebih menekankan kepada perkawinan dengan seorang gadis ketimbang janda. Meskipun kekayaan mereka semakin bertambah, Nabi Muhammad tetap hidup sebagai orang yang sederhana, ia lebih memilih untuk menggunakan hartanya untuk hal-hal yang lebih penting. Ia membenci sifat-sifat tamak, angkuh dan sombong yang lazim di kalangan bangsa Arab saat itu. Ia di kenal menyayangi orang-orang miskin, janda-janda tak mampu dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang sudah membudaya di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia di kenal sebagai As-Saadiq yang berarti "yang benar".
Selama hidupnya Nabi Muhammad menikah dengan 11 atau 13 orang wanita (terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini). Pada umur 25 Tahun ia menikah dengan Khadijah, yang berlangsung selama 25 tahun hingga Khadijah wafat. Pernikahan ini digambarkan sangat bahagia, sehingga saat meninggalnya Khadijah (yang bersamaan dengan tahun meninggalnya Abu Thalib pamannya) disebut sebagai tahun kesedihan.
Sepeninggal Khadijah, Khawla binti Hakim menyarankan kepadanya untuk menikahi Saudah binti Zam'ah (seorang janda) atau Aisyah (putri Abu Bakar). Atas perintah Allah, Muhammad menikahi keduanya. Kemudian Muhammad tercatat menikahi beberapa orang wanita lagi hingga jumlah seluruhnya sekitar 11 orang, sembilan di antaranya masih hidup sepeninggal Muhammad.
Para ahli sejarah antara lain Watt dan Esposito berpendapat bahwa sebagian besar perkawinan itu dimaksudkan untuk memperkuat ikatan politik (sesuai dengan budaya Arab), atau memberikan penghidupan bagi para janda (saat itu janda lebih susah untuk menikah karena budaya yang menekankan perkawinan dengan perawan).
Dalam usia ke-40, Nabi Muhammad pertama kali di angkat menjadi rasul pada malam hari tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611 M, diriwayatkan Malaikat Jibril datang dan membacakan surah pertama dari Quran yang disampaikan kepada Muhammad, yaitu surah Al-Alaq dan menerima wahyu pertama dari Allah.
Tiga tahun setelah wahyu pertama, Nabi Muhammad mulai berdakwah secara terbuka, menyatakan keesaan Allah dalam bentuk penyerahan diri melalui Islam sebagai agama yang benar dan meninggalkan sesembahan selain Allah. Nabi Muhammad menerima wahyu berangsur-angsur hingga kematiannya. Praktik atau amalan Muhammad di riwayatkan dalam hadis, di rujuk oleh umat Islam sebagai sumber hukum Islam bersama Al-Quran.
Pada bulan Juni 632 M, dia mengalami sakit ketika tengah berada di rumah Maimunah namun kemudian meminta pindah ke rumah Aisyah. Setelah sebelumnya mengalami demam dan beberapa kali pingsan, dia meminta kepada Abu Bakar untuk menggantikannya mengimami jamaah.
Diapun akhirnya meninggal dalam pangkuan Aisyah. Jenazah Nabi Muhammad Saw baru dimakamkan setelah selesai ditetapkan dan dibai’atnya Abu Bakar menjadi Khalifah pengganti Beliau, menjadi pemimpin kaum Muslimin.
Jasad Nabi Muhammad di mandikan kemudian di kafani dengan tiga helai kain, tidak ada padanya baju, dan tidak adanya pula surban. Kemudian jamaah kaum Muslimin menshalati jenazah Beliau satu persatu tanpa imam, secara bergantian. Pertama kaum lelaki, kemudian wanita dan selanjutnya anak-anak.
Jenazah Beliau di makamkan di rumah Aisyah, tempat di mana Beliau wafat. Di makamkan pada malam rabu tengah malam, dan di atas makamnya di percikkan air oleh Bilal, sementara letaknya agak di tinggikan sekedar satu jengkal dari permukaan bumi.
Ditulis oleh : Eka Rahayu
Siswi SMKN 42 Jakarta
Tugas Mata Pelajaran Jurnalistik

Aduh, nenangin banget bacanya ❤️
BalasHapusMantapp
BalasHapus